Taman Nasional Bantimurung

Taman Nasional Bantimurung

Kawasan wisata ini terletak di wilayah kabupaten kecil yaitu Maros yang berjarak sekitar beberapa Km (45 Km) dari pusat Kota Makassar yang memiliki luas mencapai 43.750 hektar dengan wilayah sekitarnya mencakup bukit – bukit kapur, air terjun dan goa – goa batu alami. Taman Nasional Bantimurung pertama kali diciptakan oleh seorang ahli botani dari Inggris bernama Alfred Russel Wallace, dimana ketika pertama kali ditemukan, beliau menyebut tempat ini sebagai Kerajaan Kupu – Kupu karena pepohonan liar sekitar area ini dihinggapi oleh 250 jenis Kupu – Kupu dengan beragam warna – warni sayapnya sehingga di masa depan hewan cantik ini dikenal sebagai ‘maskot’ bagi tempat yang dijadikan sebagai objek wisata alam dan edukasi. Hal ini dapat ditandai dengan dibangunnya patung Kupu – Kupu raksasa pada pintu masuk gerbang yang siap untuk menyambut pengunjung yang datang untuk liburan. Begitu anda memasuki kawasan wisata ini maka anda dapat memandang beragam jenis Kupu – Kupu dengan berbagai ukuran dibudidayakan dalam skala besar mulai dari yang berupa ulat, kepompong, hingga berubah menjad Kupu – Kupu nan cantik jelita. Terdapat juga koleksi Kupu – Kupu yang sudah diawetkan guna melihat dan meneliti tentang keragaman warna – warni sayap pada Kupu – Kupu bersangkutan. Untuk masuk ke Taman Nasional Bantimurung, anda akan dikenakan biaya per orang sebesar Rp. 20.000.  

Intip Yuk Koleksi Kupu – Kupu Cantik Di Taman Nasional Bantimurung  

Seperti salah satu lirik pada lagu anak – anak : “ Kupu – Kupu yang lucu, kemana engkau terbang ? “ nah jika anda ingin melanjutkan lirik lagu yang populer di tahun 1970 - an ini maka berkunjung saja ke Taman Nasional Bantimurung di Sulsel dimana di sana anda dapat melihat ada banyak sekali Kupu – Kupu yang bebas beterbangan dengan jinak dan dekat dengan manusia sehingga menjadikan tempat ini sebagai salah satu kawasan wisata edukasi yang setiap bulan sering dikunjungi oleh para pelajar dari seluruh Indonesia. 

Lokasi Taman Nasional Bantimurung 

Seperti dijelaskan tersebut di atas bahwa Taman Nasional Bantimurung bisa dengan mudah dijangkau dengan memakai kendaraan pribadi baik itu motor atau mobil bahkan bus – bus pariwisata. Jalan aspal rata – rata mulus dimana tempat ini dapat ditempuh dari arah Kota Makassar dalam kurun waktu sekitar 1 s/d 2 jam dengan harga tiket yang terjangkau sudah termasuk tiket masuk ke pemandian umum yang berdekatan dengan lokasi air terjun dan  goa – goa batu alam yang menarik.  

Lokasi Taman Nasional Bantimurung menjadi salah satu rumah / sarang besar dan nyaman bagi berbagai spesies Kupu – Kupu yang cantik untuk menetap bisa anda lihat yang didukung dengan melanjutkan perjalanan yang menyenangkan menuju ke dalam goa – goa beratap dan berdinding ‘stalagmit’ dan ‘stalagtit’ serta kawasan ‘karst’ yang tepat difungsikan sebagai tempat untuk berkembangbiak Kupu – Kupu. Koleksi hingga saat ini adalah sekitar 250 spesies dengan 20 jenis adalah termasuk ke dalam kelompok Kupu – Kupu langka yang dilindungi oleh pemerintah seperti ‘Cethosia Myrana’, ‘Papilo Adamantius’, ‘Troides Haliphron Boisdurval’, ‘Troides Hypolitus Cramer’ dan ‘Troides Helena Linne’ saat ini hanya ada di daerah Sulawesi Selatan saja. Taman Nasional Bantimurung di mancanegara populer dengan julukan ‘The Kingdom of Butterfly’ dengan lokasi yang berdekatan dengan air terjun menyebabkan pasokan makanan dari alam dalam jumlah mencukupi untuk menghidupi ratusan Kupu – Kupu liar sehingga laju perkembangbiakannya tergolong subur dan mudah.  

Eksplorasi Taman Nasional Bantimurung 

Selain mengunjungi taman Kupu – Kupu, anda bisa melanjutkan perjalanan liburan menuju ke objek wisata terdekta dari sini untuk bisa menyegarkan pikiran yaitu Air Terjun Bantimurung dimana anda bisa bermain – main dengan air atau sekedar mencari spot menarik untuk melakukan foto – foto selfie.  

Air Terjun Bantimurung memiliki ketinggian sekitar 15 meter terlihat unik karena air di dalam sungai di bawahnya tampak seperti mengalir dari arah gundukan bebatuan kapur berukuran besar banyak terdapat di sekitarnya dengan lebar rata – rata 20 meter. Kondisi air di dalam sungai sangat jernih dan bersih yang menyebabkan banyak pengunjung suka berenang di dalamnya agar dapat merasakan kesejukan dan dinginnya Air Terjun Bantimurung. 

Pengembangan Wisata Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) 

Taman ini merupakan kawasan ‘konservasi’ yang ditunjuk berdasarkan atas Keputusan Menteri Kehutanan nomor 398/Menhut – II/2004 pada tanggal 18 Oktober 2004.  

Sebagai salah satu taman nasional, Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) mengemban fungsi sebagai kawasan perlindungan daerah sekitar dengan menerapkan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragam jenis tumbuh – tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pemanfaatan lebih optimal sumberdaya alam hayati di dalam ekosistem yang tersedia. Ini merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pengelolaan kawasan konservasi dan sudah menjadi salah satu tren dalam upaya pemanfaatan yang diyakini mampu menjaga kelestarian alam dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lainnya yang berhubungan. 

Menurut undang – undang nomer 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya mengamanatkan bahwa taman nasional merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dikelola dengan menerapkan sistem ‘zonasi’ yang bermanfaat untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi yang menjadikan kawasan ini sejak dulu difungsikan sebagai tujuan wisata alam dan edukasi sebagai andalan daerah Sulawesi Selatan dan membantu menambah sumber pendapatan anggaran daerah / PAD bagi Kabupaten Maros yang mengemas objek wisata berupa taman Kupu – Kupu, air terjun dangkal di sela - sela tebing karst dan landscape karst yang fenomena termasuk goa – goa alami diharapkan mampu menarik minat para pengunjung untuk liburan ke tempat ini.  

Goa – goa alami yang dijuluki kompleks ‘Pattunuang Bulusaraung’ merupakan goa – goa alam dari peninggalan zaman prasejarah dimana dari kejauhan terlihat cukup menarik dengan di sekitarnya dikelilingi oleh terjalnya tebing – tebing karst merupakan potensi alam yang dapat dikembangkan lebih jauh di masa depan sebagai salah satu lokasi wisata alam yang menguntungkan bagi masyarakat sekitarnya turut serta menyediakan alternatif mata pencaharian sebagai usaha sampingan. Hal ini merupakan salah satu bentuk ‘implementasi’ terhadap tanggung – jawab dari Kantor Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dalam upaya mengembangkan pemberdayaan terhadap daerah penyangga kawasannya.  

Oleh Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam / PHKA bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyepakati untuk menyelenggarakan percepatan pengembangan pariwisata alam di sekitar kawasan hutan konservasi tersebut di atas dengan memfokus kepada kawasan taman nasional yakni Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) saat ini diarahkan menjadi salah satu bagian kerjasama dalam rencana pengembangan PHKA yang akan menerapkan pola pengelolaan keuangan terhadap badan layanan umum sebagai salah satu kegiatan utama yaitu melakukan pelayanan terhadap masyarakat umum dengan pemanfaatan wisata alam dan jasa lingkungan.  

Rencana Pengembangan Wisata 

Seperti dijelaskan tersebut di atas terhadap rencana Balai Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) untuk mencapai pengaplikasian terhadap pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum, maka rencana dan arah pengembangan wisata Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) dalam 5 tahun ke masa depan adalah sebagai berikut (dari berbagai sumber) :  

Lokasi Prioritas Pengembangan  

Ada banyak hal yang menonjol dari Taman Nasional Bantimurung yang dapat dijual sebagai objek kunjungan wisata dengan mempertimbangkan aspek ‘aksesibilitas’, keunikan, kelangkaan, dan daya tarik yang dimiliki oleh masing – masing objek, maka pengembangan wisata alam di dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung memprioritaskan kepada lokasi – lokasi sebagai berikut : kompleks wisata Taman Nasional Bantimurung, Bulusaraung, Pattunuang, Leang – Leang, Karaenta, Leang Lonrong dan kompleks goa alam dan tebing. 

Rencana Pengembangan Wisata Perlokasi  

Pengembangan wisata ke masa depan adalah dengan memperhatikan sarana dan prasarana yang memiliki fungsi untuk menunjang beragam kegiatan wisata di sekitar lokasi wisata air terjun yang berdekatan dengan Danau Toakala dan Danau Kassi Kebo berhubungan dengan potensi keanekaragaman hayati dan ekosistem serta pengelolaan wisata secara garis besar seperti wisata tirta, ‘sight seeing’, ‘caving wisata’, berenang pada kolam – kolam buatan, bermain ‘flying fox’, berenang di sungai air terjun dan menjelajahi goa – goa batu alam di sekitar kawasan wisata ini.  

Juga memperhatikan rencana penangkaran Kupu – Kupu dengan tujuan untuk melestarikan lingkungan dengan mengembalikan kejayaan ‘ Kerajaan Kupu – Kupu ’ yang sempat mengalami masa pudar. Saat ini sudah dibangun dan dikelola penangkaran Kupu – Kupu yang dilengkapi dengan laboratorium mini dalam ukuran dan kapasitas serta kelengkapan ‘utilitas’ dalam jumlah yang mencukupi, juga dibangun ‘ dome ’ Kupu – Kupu dalam ukuran dan kapasitas yang lebih besar, maka diharapkan penangkaran Kupu – Kupu yang akan dikembangkan nantinya adalah terlengkap dan terbesar di Indonesia. Disediakan peralatan dan perlengkapan penangkaran antara lain berupa laboratorium, ruang display, sarana interpretasi, gerbang, dan pagar pengaman. Pengembangan dan pembangunan akan dituangkan dalam ‘siteplan’ penangkaran yang lebih detail. Para pengunjung diupayakan untuk bisa menerima informasi dan penjelasan lengkap berhubungan dengan Kupu – Kupu sebagai salah satu upaya konservasi dengan melakukan kunjungan ke penangkaran tersebut.  

Gunung Bulusaraung  

Merupakan salah satu lokasi wisata untuk pendakian para pecinta alam dimana gunung ini tidak terlalu tinggi dengan melalui jalur – jalur pendakian yang tidak terlalu terjal. Kegiatan yang dilakukan di puncak gunung adalah ‘hill walking’ dan ‘sight seeing’ dimana dari sini anda dapat melihat panorama bentangan lahan ‘karst Maros – Pangkep’ jelas terlihat dari puncak gunung. Di sepanjang jalur pendakian terbagi atas 10 pos pendakian, telah tersedia 5 pos pendakian berupa ‘shelter’ namun masih diperlukan pembangunan fasilitas shelter sejenis pada 5 pos pendakian lainnya. Dari ke – 10 pos – pos pendakian, pos ke – 9 merupakan tempat peristirahatan terakhir para pendaki sebelum tiba pada daerah puncak / pos ke – 10. Kondisi pos terakhir cukup landai dan luas serta terdapat sumber mata air yang mudah diakses oleh para pendaki. Sebagai kegiatan ‘camping ground’, pada pos pendakian belum tersedia fasilitas dan utilitas apapun. Maka dari itu, guna meningkatkan kenyamanan pendaki perlu kebersihan lingkungan dijaga dan membangun shelter, MCK, dan tempat – tempat pengolahan / pembakaran sampah, pondok – pondok jaga atau pondok wisata yang akan membantu menyediakan berbagai keperluan para pendaki.  

Areal Camping Ground Pattunuang  

Kawasan ini sudah lama dikenal oleh para pecinta alam. Pada lokasi ini biasa dilakukan kegiatan panjat tebing dan selusur goa di sekitarnya (seperti Goa Ramadhan dan Goa Pattunuang) dimana untuk menunjang kegiatan bersangkutan telah disediakan fasilitas berupa MCK sebanyak 2 unit, shelter (6 unit), jalan – jalan trail wisata, pos – pos jaga / loket, penangkaran Kupu – Kupu dan pos jaga. Ke masa depan, Pattunuang akan diarahkan menjadi bagian dari objek wisata andalan Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) yang saat ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Maros, maka dari itu diperlukan pembangunan sarana dan prasarana wisata yang memadai terutama papan – papan informasi dan / atau ‘interpretasi’ serta fasilitas lainnya.  

Taman Prasejarah Leang – Leang 

Merupakan salah satu objek wisata budaya yang cukup terkenal di Kabupaten Maros dimana banyak ditemukan peninggalan purbakala pada goa – goa batu alami prasejarah di kawasan ini. Goa – goa prasejarah tersebut termasuk ke dalam kawasan wisata Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kompleks ini dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Maros bekerjasama dengan BP3 Makassar dan Pemda Maros. Taman Prasejarah leang – Leang dituntut agar menjadi lebih aktif dalam berpartisipasi untuk pengelolaan goa – goa prasejarah yang ada.  

Habitat Satwa Macaca Maura : Karaenta  

Karaenta dikenal sebagai habitat dari salah satu satwa langka yaitu Macaca Maura di dalam kawasan wisata Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung). Macaca Maura hidup liar di kawasan hutan lindung namun mudah untuk dipanggil (dengan keahlian khusus oleh petugas Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung)). Satwa langka ini menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan untuk melihatnya. Karena Macaca Maura adalah satwa liar yang hidupnya sangat tergantung kepada kondisi alam di sekitar mereka bersarang maka pengembangan atraksi mereka sebagai objek wisata sangat terbatas dengan membatasi kuantitas dan frekuensi kunjungan wisata diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kehidupan alami mereka sebagai satwa liar dan juga dapat menjaga keamanan dan kenyamanan dari para pengunjung. Eksistensi dan kelestarian mereka diperhatikan meskipun saat ini pengembangan fasilitas dan utilitas wisata tersedia dalam jumlah terbatas.  

Pada lokasi ini hanya akan dibangun shelter sebagai tempat untuk istirahat bagi para pengunjung dan menyediakan jalan – jalan trail wisata guna menunjang kenyamanan pengunjung di dalam menjelajahi, menikmati, dan menginterpretasi keanekaragaman hayati dan ekosistem di dalam area Karaenta. Stasiun penelitian dan fasilitas parkir dapat dibangun pada lokasi yang letaknya agak berjauhan dengan habitat Macaca Maura sehingga tidak mengganggu aktivitas dan kelangsungan hidup satwa bersangkutan.  

Leang Londrong 

Ini adalah salah satu lokasi wisata yang terletak di Kabupaten Pangkep. Memiliki variasi objek wisata yang cukup beragam mulai dari panorama alam berupa aliran sungai yang meliuk – liuk dan agak panjang di dalam goa – goa batu alami yang didukung oleh lingkungan hutan dengan ‘vegetasi’ dan satwa liar dalam jumlah beragam, menjadikan lokasi ini cukup menarik untuk dikembangkan dimana di dalamnya anda dapat melakukan ‘trecking’, wisata tirta, susur goa, ‘animal watching’ dan wisata pendidikan.  

Yang terakhir adalah objek wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata alam berupa menyusuri kompleks area goa – goa alam dan tebing – tebing eksotik yang mengelilinginya merupakan kawasan karst dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) dimana goa – goa alam di dalamnya memiliki dinding dan atap unik namun sangat cantik. ‘Caving’ atau selusur goa bisa dilakukan pada banyak tempat di kawasan ekosistem karst Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung) yang memiliki nilai – nilai ‘arkeologis’ dan ‘historis’ sehingga memungkinkan dilakukannya kegiatan wisata baik itu berupa objek wisata minat khusus, pengembangan kegiatan ‘speleologi’ dan wisata budaya. Seperti halnya goa, tebing dimanfaatkan untuk kegiatan panjat tebing dengan memperhatikan kekuatan dinding ‘karst masiv’ terkuat untuk melakukan kegiatan ekstrem tersebut. Goa – goa dan tebing akan dikembangkan untuk kegiatan wisata dan jasa lingkungan yang ditentukan dan dibatasi oleh zonasi Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung).  

Layanan Pendidikan Konservasi  

Penyelenggaraan kegiatan wisata edukasi sambil bermain dan / atau rangkaian kegiatan ‘outbound’ dengan diselipi misi dan visi pendidikan konservasi melalui kegiatan – kegiatan interpretasi alam dan lingkungan adalah dilakukan dalam rangka penyadartahuan tentang konservasi alam terhadap kelestarian lingkungan terutama berhubungan dengan konservasi kawasan Taman Nasional Bantimurung (Bulusaraung). Kegiatan yang dikemas berupa paket – paket wisata kunjungan ke sekolah – sekolah, kunjungan ke lokasi, ‘jungle camp’, ‘outbound’, dan kegiatan lainnya haruslah berhubungan dengan pendidikan konservasi.  

Secara garis besar suasana di kawasan wisata Taman Nasional Bantimurung sangat teduh, asri dan sejuk. Kalau anda sudah puas mengeksplorasi koleksi Taman Nasional Bantimurung maka jangan lupa untuk membeli oleh – oleh khas kawasan wisata ini yaitu berupa Kupu – Kupu yang telah diawetkan di kios – kios souvenir yang banyak berdiri di area gerbang pintu masuk. 

Demikian kami menjelaskan tentang Taman Nasional Bantimurung, semoga bermanfaat bagi para pembaca.  


Author
Nila

Suka menulis dan membaca

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar