Efek Negatif Gadget bagi Anak dan Remaja

Efek Negatif Gadget bagi Anak dan Remaja

Di era digital ini anak dan remaja seolah tak bisa lepas dari gadget. Di manapun mereka, gadget tak ketinggalan dibawa serta. Tak heran, anak atau remaja asyik bermain gadget menjadi pemandangan biasa.

Maraknya gadget juga akibat adanya orang tua yang justru merasa terbantu oleh gadget. Sebagian orang tua yang ingin aktifitasnya tidak terganggu menyibukkan anaknya dengan gadget. Maka kondisi yang ada seolah saling menguntungkan, dimana orang tua mendapat manfaat dan anak mendapat kesenangan.

Namun, orang tua dan anak hendaknya sadar bahwa dibalik manfaat dan kesenangan, ada efek negatif yang bisa gadget timbulkan. Berikut minimal 5 efek negatif gadget :

1. Merusak indera penglihatan

Efek negatif gadget pada mata diakibatkan oleh sinar biru. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah artikel di myopiainstitute.com (2018), bahwa peralatan digital menghasilkan cahaya tampak berenergi tinggi dalam bentuk sinar biru. Sinar tersebut bisa dengan mudah masuk mata anak dan meningkatkan risiko gangguan mata. Penelitian lain, sebagaimana dikutip sebuah artikel di hellosehat.com (2018), menyatakan bahwa paparan sinar biru yang terlalu lama bisa memicu sel-sel fotoreseptor (peka cahaya) pada mata dan menghasilkan molekul beracun yang merusak mata. Anak dan remaja sangat berpotensi terkena efek negatif ini mengingat kebiasaannya cenderung tidak sehat, seperti main game terlalu lama, layar terlalu cerah, dan nonton sambil tiduran. Kebiasaan tersebut membuat sinar biru dengan mudah masuk mata anak.   

2. Merusak syaraf

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perdossi Pusat Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), sebagaimana dikutip dalam sebuah artikel di Kompas.com (2019), menyatakan bahwa

Kebiasaan terlalu banyak menggunakan gawai (gadget) memberikan potensi kerusakan saraf tepi atau neuropati. Tentu saja efek ini cenderung terjadi  pada anak dan remaja. Karena merekalah yang betah pada posisi dan gerakan yang sama dalam waktu lama saat main game.

3. Membentuk mental pemalas

Mental pemalas terbentuk dari keasyikan menonton dan bermain game. Anak kadang sampai lupa makan dan istirahat. Rincil Renaldi, psikiater anak dan remaja dari Universitas Hasanuddin Makassar, sebagaimana dikutip Suara.com, mengatakan bahwa anak-anak yang terbiasa bermain gadget dalam waktu lama bisa membuat mereka malas belajar dan beraktifitas. Pendapat itu tentulah tepat mengingat tayangan menu di gadget cenderung menyedot perhatian dan kesenangan anak. Akibatnya aktifitas utama lain seperti belajar, bermain, dan olahraga kadang terlupakan. Kondisi semacam ini jika berlangsung lama membentuk mental pemalas dan pasif. Akibatnya, Jika Anak malas beraktifitas, tentulah kecerdasan dan kreatifitas berkurang.

4. Kecanduan gadget

Kondisi kecanduan gadget tampak dari ketergantungan yang besar pada gadget. Misalnya, perasaan anak gelisah dan sedih jika tanpa gadget. Hal seperti ini tentu tidak sehat. Karena berakibat fokus belajar terganggu, emosi tidak stabil, dan semangat berprestasi hilang. Tingkat kecanduan akut pada gadget bisa menimbulkan gejala autis dan anti sosial. Karena Anak atau remaja yang kecanduan cenderung menikmati kesendirian, menganggap perhatian dan respon orang lain sebagai ‘gangguan’. Ini tentu berbahaya bagi perkembangan mental anak.

5. Terpapar Pornografi

Banyak penyimpangan seksual seperti free sex, prostitusi, homo dan lesbian, kadang menyatu dalam menu di gadget. Anak dan remaja tentulah rentan terpapar karena berada dalam usia dimana rasa ingin tahunya besar. Apalagi banyak menu game beraroma pornografi yang relatif mudah dikonsumsi anak. Karenanya, jika tanpa pendampingan, anak dan remaja bisa terjerembab dalam “jurang” pornografi di gadget mereka.

Menyadari efek negatif tersebut, kesadaran untuk menghindarinya perlu disosialisasikan. Bukan dengan menolak memakai gadget . Tapi agar lebih bijak dan hati-hati dalam memakainya. Karenanya Pemerintah perlu melakukan edukasi penggunaan gadget yang sehat. Dan kontrol dari orang tua terhadap pemakaian gadget oleh anak perlu ditingkatkan. Dengan demikian efek negatif gadget pada anak dan remaja bisa diminimalkan 



Author
Budi Hariyadi

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar