Edukasi  Sportivitas bagi Suporter Bola

Edukasi Sportivitas bagi Suporter Bola

Tawuran antar suporter bola sering terjadi . Kadang tak hanya berujung anarki tapi juga menimbulkan korban jiwa. Keadaan ini menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Prihatin mengingat sejatinya sepakbola adalah arena belajar sportivitas , bukan ajang baku hantam apalagi baku tebas.

Menyadari masalah tersebut, berbagai kalangan menawarkan solusi .Salah satunya ide edukasi bagi suporter sepak bola . Persoalannya, edukasi apa yang urgen diterapkan terhadap suporter bola? Menurut Penulis, perlu segera dilakukan edukasi mental sportif.

Mengapa mental sportif menjadi penting ? Karena suporter bola memang jarang mendapat pengetahuan nilai sportivitas. Selama ini hanya pemain yang dididik dan dituntut bermental sportif. Sementara pada suporter bola jarang ditanamkan mental tersebut. Padahal dari sisi jumlah, suporter jauh lebih banyak dari pemain. Dan dari sisi peran, suporter inilah faktor penentu suasana pertandingan. Suporterlah yang membuat pertandingan bola jadi banyak atensi karena meriah dan ditonton massa yang besar. Namun massa suporter juga berpotensi destruktif, yang bisa mengubah pertandingan jadi kerusuhan jika tidak terkendali. Potensi destruktif ini menjadi besar jika massa suppoter tidak punya kesadaran kolektif mengenai nilai sportivitas.

Karenanya mendidik massa suporter agar sadar mental sportif menjadi urgen. Tentulah diperlukan pemahaman nilai sportivitas yang jadi kesadaran kolektif, bukan sekedar kesadaran individual.

Namun nilai sportif seperti apa yang tepat bagi suporter? Setidaknya ada 5 nilai agar terbentuk suporter bermental sportif, berikut ulasannya:

1. Bangga jika timnya bertanding secara ksatria

Ksatria yang dimaksud adalah sikap bertanding secara  berani tapi jujur. Bentuk sikap ksatria bagi suporter adalah bangga ketika tim sepak bola yang didukung bisa bertanding berani tapi juga jujur. Kebanggaan ini mendorong para pemain bertanding secara sehat. Bagi suporter sendiri, rasa bangga pada kejujuran  bisa mengendalikan mereka untuk tidak menyulut aksi-aksi kecurangan selama pertandingan. Dengan demikian, jika berhasil menanamkan nilai ini, tentu jadi kontrol internal baik terhadap pemain maupun suporter .

2. Malu jika timnya berbuat curang

Dalam konteks suporter rasa malu adalah perasaan kolektif tidak suka jika tim sepak bolanya membuat kecurangan. Jika suporter saja malu pada kecurangan, tentulah berdampak positif. Para pemain tidak akan memakai segala cara, karena menang pun jika tidak dengan cara yang jujur justru membuat kecewa para suporter.

3. Legowo menerima kekalahan

Legowo adalah sikap utama yang perlu ditanamkan pada suporter. Karena sikap inilah yang menghindarkan aksi anarkis dan brutal akibat rasa kecewa ketika mengalami kekalahan. Cara mendidik sikap legowo adalah dengan menanamkan nilai bahwa kekalahan bukan kehinaan. Kekalahan adalah hal biasa dalam suatu pertandingan. Kekalahan tidak membuat yang kalah jadi tidak berharga. Dengan nilai seperti itu, sikap legowo menjadi kelapangan hati mengakui keunggulan lawan.

4. Tidak berlebihan mengekspresikan kegembiraan saat menang

Sikap sportif perlu diperluas, mencakup sikap tidak berlebihan mengekspresikan kemenangan terutama di hadapan lawan. Karena ekspresi yang berlebihan, terutama di hadapan lawan, bisa ditafsirkan sebagai sikap penghinaan atau olok-olok yang memancing emosi lawan.

5. Memposisikan lawan sebagai sesama peserta kompetisi, bukan musuh

Suporter perlu diberi pengertian bahwa pihak lawan dalam pertandingan itu bukan musuh, tapi sesama peserta tanding. Peserta tanding memiliki hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk diberi penghargaan ketika menang, dan kewajiban untuk tetap menghargai pihak yang kalah. Selain itu, walaupun sesama peserta tanding itu memang harus berlomba untuk saling mengalahkan tapi itu konteksnya dalam pertandingan, bukan meluas ke luar arena pertandingan. Dengan kata lain, suporter perlu dididik untuk membedakan arena pertandingan dengan arena perkelahian. Dengan kesadaran demikian, semangat dan emosi akan disalurkan dalam kerangka sebuah pertandingan olahraga, bukan permusuhan sesama kelompok.

Nilai atau sikap di atas adalah dasar pembentukan mental sportif. Urgensi edukasi nilai-nilai tersebut sudah mendesak. Tentang bagaimana teknis edukasinya terhadap suporter bola tentulah bisa menjadi bahan diskusi para pakar yang berkompeten. Memang, menanamkan mental sportif pada kelompok yang didominasi remaja tentulah bukan hal mudah. Namun bukan hal yang mustahil. Apalagi jika semua pihak bisa bersinergi agar proses edukasi suporter yang tepat guna dan tepat sasaran bisa terealisasi.



Author
Budi Hariyadi

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar