Asal - Usul Festival Dongzhi

Asal - Usul Festival Dongzhi

‘Dongzhi’ berasal dari suku kata ‘dong tian’ yang mengandung makna musim dingin dan ‘zhi’ yang berarti paling / sangat, jadi dongzhi adalah musim dingin yang paling dingin pernah terjadi di Bumi.  

Dongzhi merupakan sebuah hari dimana pada waktu siang hari memiliki jarak terpendek dan ketika malam tiba adalah waktu terpanjang pada Bumi dibagian utara. Masing – masing tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun, warga Tionghoa di seluruh dunia akan merayakan suatu festival yang diberi nama ‘Dong Zhie Jie’ yaitu perayaan makan ‘onde – onde’ atau di Indonesia dikenal dengan nama ‘wedang ronde’. Menurut tradisi warga Tionghoa, perayaan ini merupakan salah satu festival yang wajib dilakukan adalah sama pentingnya dengan kemunculan Perayaan Tahun Baru Imlek, Festival Perahu Naga, dan Festival Kue Bulan.  

Dikenal beberapa versi mengenai asal mula diberlakukannya Festival Musim Dingin di Tionghoa yang saat ini sudah dikenal oleh warga dunia, kami rangkum dari berbagai sumber berita akan menjelaskan tersebut di bawah ini :  

Asal Mula Yang Berhubungan Dengan Cerita Pembangunan Istana Raja 

Di Negeri China pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Kaisar China yang berencana untuk membangun sebuah istana. Beliau mengumpulkan seluruh tukang bangunan terbaik di dunia guna mewujudkan harapannya memiliki sebuah istana seperti kastil – kastil yang berdiri megah di negara – negara bagian barat (Eropa). Mereka adalah tukang kayu, tukang batu, tukang meja dan kursi serta peralatan rumah tangga lainnya, tukang pintu dan jendela, tukang cat, tukang emas dan lain sebagainya yang menguasai bidangnya dengan profesional.  

Kaisar memberitakan akan menghadiahkan gelar ‘Da Shi Fu’ / guru handal atau ahli apabila mampu membangun sebuah istana sesuai dengan bangunan asli seperti kastil – kastil mewah di Eropa. Memperoleh gelar ahli dari Sang Kaisar mendorong dan memberikan semangat tinggi kepada semua tukang untuk bekerja secara optimal. Berita bagus ini terdengar juga hingga ke telinga tukang masak yang ada di seluruh dataran Tionghoa, dimana tukang masak juga merasa dibutuhkan dalam proyek besar membangun sebuah istana untuk Sang Kaisar. Tukang masak selanjutnya menghadap kepada Sang Kaisar untuk memohon kepada beliau agar dinobatkan menjadi maha guru tukang setelah istana selesai dibangun dengan cara menyiapkan makanan sehat untuk tukang – tukang yang lainnya. Sayang sekali Sang Kaisar tidak membutuhkan tukang masak karena memasak adalah dianggap sebuah bidang yang sangat mudah untuk dilakukan sehingga tidak perlu diberi gelar ahli yang nantinya justru tidak ada arti bagi tukang masak itu sendiri. Dengan perasaan sedih dan kecewa, tukang masak mengundurkan diri.  

Beberapa hari kemudian, datanglah musim dingin menyelimuti seluruh dataran Tionghoa. Ketika hari beranjak siang dan udara di sekitar sangat dingin, tiba – tiba para tukang bangunan merasakan perut mereka mulai lapar dan keroncongan, sejenak mereka meninggalkan pekerjaannya untuk menuju ke dapur umum guna mencari sesuatu untuk dapat dimakan. Namun sayang sekali di dapur tak tersedia sebiji nasi di atas meja ! Dengan terpaksa para tukang melanjutkan pekerjaan mereka sambil menahan perut lapar dan udara yang sangat dingin. Sebagian dari para tukang bangunan tidak kuat secara jasmaniah untuk melanjutkan pekerjaan berat tersebut lalu mengundurkan diri dan menyebabkan proyek pembangunan istana menjadi terhenti. Sang Kaisar merasa khawatir dengan kondisi buruk tersebut, lalu beliau ingat dengan tukang masak yang pernah menawarkan jasa untuk menyediakan sejumlah makanan bergizi bagi para tukang lainnya, beliau memanggil tukang masak tersebut untuk menjadi juru masak di dapur umum sementara proyek pembangunan istana sedang dikerjakan. Sang Kaisar berjanji akan memberikan gelar maha guru kepada tukang masak setelah pembangunan istana selesai dikerjakan.  

Maka masuklah tukang masak ke dapur umum dimana saat itu di dapur hanya ada beras ketan, gula dan sejumlah rempah, dengan keterampilan si tukang memasak, selanjutnya beras ketan dicuci bersih lalu ditumbuk menjadi tepung ketan yang dibuat menjadi adonan kalis dapat dibentuk menjadi bola – bola kecil dengan warna putih yang utama, sebagian lagi diberi warna merah, kuning dan hijau. Bola – bola kecil tersebut direbus untuk nantinya dihidangkan bersama dengan kuah yang bercita rasa manis diberi rempah jahe. Maka jadilah ‘sop bola – bola kecil’ yang hangat dengan penampilan bagus oleh perpaduan warna – warni dari bola – bola kecil yang dibuat oleh tukang masak. Kuah terasa lezat karena dicampur bumbu masak yang berasa manis dimana sajian ini pas diberikan kepada para tukang bangunan agar memiliki tenaga besar guna tetap mampu bekerja di musim dingin.  

Dalam sekejap, istana Sang kaisar sudah selesai dibangun sebelum kemunculan Perayaan Musim Semi. Maka sejak saat itu di dalam masyarakat Tionghoa terdapat sebuah tradisi kecil yang tetap dilakukan hingga saat ini setiap musim dingin tiba yaitu memasak sop bola – bola kecil yang di sini populer dengan sebutan ‘tang yuan’ atau ‘onde – onde’ terbuat dari bahan utama yaitu tepung ketan dan kuah dari bahan campuran berupa gula, garam, dan sari jahe. Masakan sederhana ini mengingatkan betapa besar jasa tukang masak yang telah membantu lancarnya pembangunan istana Sang Raja.  

Asal – Usul ‘Solstice’ / Titik Balik Matahari 

Menurut catatan sejarah menjelaskan bahwa festival dongzhi mulai dirayakan oleh warga Tionghoa sejak kejayaan masa ‘Dinasti Han’. Dasar dilakukannya perayaan ini adalah untuk menjaga keseimbangan antara kosmos dengan alam semesta. Dimana setiap tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun terjadi peristiwa yang disebut ‘Titik Balik Matahari’ terletak pada posisi paling selatan dari Bumi. Pada saat itu sinar Matahari berada pada kondisi terlemah dimana siang menjadi sangat pendek. Untuk anda yang tinggal di Indonesia, kondisi ini tidak terasa berbeda dengan hari – hari lainnya namun bagi anda yang tinggal dibelahan Bumi lain seperti di Tionghoa, titik balik ini akan sangat terasa dimana udara menjadi luarbiasa dingin. Nah pada zaman dulu kala, terkait dengan kondisi Titik Balik Matahari tersebut di atas, tradisi perayaan festival dongzhi dimulai dengan berlatarbelakang adat terhadap pemujaan kepada Para Dewata dan Leluhur guna bersyukur (mulai dirayakan pada masa kejayaan ‘Dinasti Tang’ dan ‘Dinasti Song’). Setelah usai upacara adat ini maka para warga akan berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga, teman – teman, tetangga dan kerabat lainnya untuk menikmati kehangatan dan lezatnya semangkok sop onde – onde sebagai sebuah simbol dari ikatan tali kekeluargaan dan kebersamaan diantara mereka.  

Asal Mula Festival Dongzhi Berhubungan Dengan Makanan Khas Lainnya  

Beberapa daerah di daratan China terutama dibagian utara, para warganya merayakan kembali sebuah tradisi lama dari warga Tionghoa kuno bernama festival dongzhi dengan menyediakan beberapa jenis makanan berkuah berasa manis, ‘makan wanton’ / pangsit, dan masakan daging kambing. Sedangkan dibagian selatan termasuk ke dalam wilayah Asia Tenggara, warga Tionghoa merayakan festival ini dengan menyajikan makanan khas bernama tang yuan yaitu ragam makanan yang terbuat dari beras ketan dibentuk bola – bola tanpa isi atau diberi pasta kacang merah. Festival ini erat kaitannya dengan rasa bersyukur dengan adanya berkah dari Tuhan dan tradisi melakukan upacara sembahyang kepada para leluhur. 

Terdapat 3 versi cerita legenda tentang asal mula kemunculan festival dongzhi berhubungan dengan makanan khas yang akan disajikan seperti wanton, daging kambing atau tang yuan (ragam makanan dari beras ketan dan kacang merah).  

Makan Wanton / Pangsit Di Festival Dongzhi 

Ketika Dinasti Han sedang berkuasa, ‘Suku Xiong Nu’ yang bermukim di sebelah utara dataran China memiliki kebiasaan buruk yaitu suka mengusik keamanan dan ketentraman kehidupan warga di daerah perbatasan sehingga warga perbatasan tidak bisa hidup dengan tenang. Suku Xiong Nu dipimpin oleh 2 marga besar yaitu ‘Marga Hun’ dan ‘Marga Tun’ dimana warga perbatasan berhati – hati sekali terhadap kelompok mereka. Untuk berjaga – jaga terhadap keusilan mereka, pada hari dongzhi masing – masing keluarga di daerah ini akan berkumpul untuk menggelar acara makan bersama dengan keluarga, teman – teman, dan kerabat dengan menu utama adalah ragam makanan yang dipercaya mampu mengusir aura kejahatan di lingkungan sekitar mereka tinggal yaitu makanan dengan bentuk tanduk dimana di dalamnya diisi dengan daging yang dibalur bumbu rempah bernama ‘hun tun’ / sejenis wanton / pangsit. Hun tun mempunyai jenis yang sama dengan ragam masakan yang dibuat oleh kedua marga yang dipimpin oleh Xiong Nu tersebut di atas. Dengan memakan hun tun maka dipercaya dapat melalui kehidupan yang tenang dan damai sambil disertai upacara sembahyang bersama untuk berdoa. Jenis makanan hun tun khusus diciptakan pada hari dongzhi saja bagi masing – masing keluarga di daerah perbatasan. 

 Makan Daging Kambing Di Festival Dongzhi 

Tradisi makan daging kambing dimulai ketika masa kejayaan Dinasti Han berkuasa. Adalah Jenderal Fan Hui mempersembahkan masakan dari daging anjing kepada Kaisar pertama berkuasa pada Dinasti Han yaitu ‘Han Gao Zu Liu Bang’ pada Hari Dongzhi. Usai menyantap masakan tersebut, Sang Kaisar sangat menyukai dan semenjak itu warga Dinasti Han pun mulai gemar makan daging anjing setiap kemunculan hari dongzhi. Saat ini daging anjing sudah diganti dengan daging kambing atau makanan berdaging dari hewan ternak lainnya seperti sapi, babi, termasuk unggas yaitu ayam dan bebek yang dinilai memiliki gizi bagus untuk menjaga kebugaran tubuh ketika memasuki musim dingin di China, dan tradisi kuno ini tetap dilakukan hingga saat ini. 

Tradisi Berkumpul Bersama Sambil Makan Tang Yuan 

Di dalam wilayah ‘Jiang Nan’, festival dongzhi dirayakan dengan acara kumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga untuk bersama – sama menikmati makanan khas yang terbuat dari bahan beras ketan dan kacang merah. Tradisi kuno ini pertama kali berasal dari sebuah keluarga besar bermarga ‘Gong – Gong’ dimana keluarga ini mempunyai seorang putra namun memiliki watak jelek dimana ia suka mengganggu keamanan tetangga di sekitar dia tinggal. Namun sayang sekali putra mereka tidak mampu hidup dalam usia panjang dimana ia meninggal dunia pada ‘Hari Dongzhi’ dimana pada hari bersangkutan ada banyak setan dan penyakit yang mengganggu ketentraman hidup masyarakat sekitar. Meskipun terdengar sangat mengkhawatirkan, penyakit yang beredar ternyata bisa disembuhkan dengan menyantap kacang merah yang banyak tumbuh dengan subur di dataran China (Tionghoa). Warga pun memasak nasi kacang merah dan menyantapnya guna menjaga kesehatan tubuh dan mengusir setan sehingga warga dapat hidup dengan tenteram.  

Demikian kami menjelaskan tentang asal - usul festival dongzhi, semoga bermanfaat bagi para pembaca. 

 

 


Author
Nila

Suka menulis dan membaca

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar