Asal - Mula Tradisi Bacang / Bakcang

Asal - Mula Tradisi Bacang / Bakcang

Menurut catatan di dalam penanggalan ‘Imlek’, setiap tanggal 5 bulan 5 menurut Kalender Lunar merupakan peringatan Hari Duan Wu dimana di Indonesia populer dengan sebutan ‘Hari Peh Cun’terkenal dengan salah satu acara yang ditunggu – tunggu adalah menyajikan ragam Kue Bacang terlezat untuk keluarga. Menurut warga Tionghoa, Peh Cun merupakan salah satu tradisi kuno dari warga Tionghoa yang merupakan perayaan 3 hari raya besar dari warga Tionghoa seperti Hari Raya Imlek dan Hari Raya ‘Tiong Jiu’ / hari dimana semua warga dapat menikmati kelezatan Kue Bulan.  

Dikenal ada 3 tradisi kuno yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa ketika merayakan hari bersangkutan antara lain memasak Kue Bacang / Bakcang dalam jumlah besar yang nantinya akan dibagi – bagikan kepada kerabat, kegiatan mendirikan telur – telur ayam, dan menggelar acara lomba perahu Naga / ‘Dragon Boat Festival’.  

Hari Raya Naga Dan Kebiasaan Hari Duan Wu  

Seorang cendekiawan patriot terkenal bernama Wen Yiduo di dalam salah satu tesisnya yang berjudul ‘Kajian Duan Wu’ menjelaskan tentang keberadaan Suku Bangsa Kuno Yue yang menjadikan hewan Naga sebagai ‘totem’ mereka, saat itu warga Tionghoa merasa khawatir yaitu akan terancam oleh kekuatan alam yang marah seperti adanya bencana alam besar namun mampu menyelamatkan diri karena mereka percaya bahwa ada makhluk - mahkluk tertentu di Bumi ini yang menyimpan kekuatan alami supranatural menghindarkan para warga dari kematian karena bencana alam, maka semenjak itu mereka menganggap bahwa makhluk – makhluk tersebut adalah Para Leluhur dan sebagai Dewa Pelindung terhadap seluruh suku di daratan Cina yang hingga saat ini disebut dengan istilah ‘Totem Naga’. Mereka menato bagian - bagian tubuh tertentu dengan gambar hewan suci Naga dan juga pada peralatan dapur sehari – hari dengan tujuan supaya mendapatkan perlindungan dari Totem Naga dan selanjutnya menjadi pengikut setia yang menunjukkan bahwa mereka berstatus sebagai ‘Anak Naga’, mengokohkan hak – hak agar diri sendiri dilindungi dengan cara melakukan sebuah tradisi yaitu memotong rambut dan menato bagian tertentu dari tubuh, serta setiap tanggal 5 bulan 5 dalam Kalender Imlek diwajibkan menggelar sebuah acara untuk melakukan persembahan besar dimana di dalamnya terdapat beberapa permainan yang menyerupai perlombaan dengan para peserta adalah kelompok laki – laki dewasa dan dari sinilah asal mula munculnya tradisi lomba perahu Naga. Perkembangan selanjutnya dari tradisi lomba perahu Naga adalah bukan hanya bersifat adat – istiadat dari Suku Yue saja, tetapi suku – suku bangsa lainnya di Cina juga mempunyai kebiasaan seperti ini dimana hal ini diperkuat dengan penemuan benda – benda kuno ‘Zaman Zhan Guo’ terlihat menyerupai kondisi tersebut di atas dengan waktu penyelenggaraan lomba adalah hampir sama. Dragon Boat Festival dirayakan di Cina, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara lainnya.  

Diketahui bahwa setiap bulan ke – 5 / Kalender Imlek, ketika musim panas berlangsung di daratan Cina, para warga akan memakan ragam kue yang bersifat sebagai pendingin tubuh terbuat dari beras atau beras ketan lalu dibungkus dengan dedaunan tertentu dan dimasak hingga matang serta mengeluarkan aroma wangi dari bahan bumbu yang dipakai untuk mencampur sehingga kue bersangkutan terasa lezat, menurut ahli kesehatan, sesudah menyantap Kue Bacang diharapkan mampu menetralisir panas dalam dan membantu menurunkan sifat – sifat api di dalam tubuh sehingga bagian pencernaan dan perut terasa sehat, dimana pada musim kemarau (yang rata – rata cukup panjang) para warga di Cina akan berganti busana musim kemarau yang mengutamakan bahan busana serba ringan dan sejuk. Menurut tradisi berpakaian dan jenis makanan yang disantap, Hari Duan Wu tersebut di atas adalah hari yang dihubungkan dengan tibanyak musim kemarau panjang.  

Sejarah Dan Makna Terkandung Dari Tradisi Hari Bakcang / Peh Cun  

Mungkin beberapa dari anda sudah mengenal yang namanya Kua Bakcang. Saat ini sudah mulai banyak dijual di pasar – pasar tradisional. Apalagi ketika warga Tionghoa di Indonesia sedang merayakan salah satu hari besar bagi mereka yaitu Hari Bakcang / Peh Cun yang diperingati setiap hari ke – 5 bulan ke – 5 menurut Kalendar Lunar Cina. Di Indonesia Hari Bakcang jatuh pada tanggal 30 Mei setiap tahun yaitu diperingati dengan cara melakukan acara makan ‘ngemil’ berupa Kue Bacang / Bakcang yang lezat.  

Seperti diketahui bahwa Hari Bakcang dikenal sebagai hari dimana warga Cina menggelar acara Festival Perahu Naga / Festival ‘Dumpling’ dan Festival ‘Summer’ / Festival ‘Duan Wu’ dimana di dalamnya dikemas acara balap perahu di sungai – sungai besar di Cina erat kaitannya dengan acara selanjutnya yaitu mengonsumsi kue beras ketan usai melakukan kegiatan ini untuk memulihkan tenaga para peserta yang kelelahan. Festival ini banyak ditonton oleh turis lokal maupun turis dari mancanegara.  

Berhubungan Dengan Tokoh Sejarah ‘Qu Yuan’ 

Hari bersejarah ini dimaksudkan sebagai sebuah media yang erat hubungannya dengan kisah perjalanan hidup seorang tokoh sejarah bernama Qu Yuan (340 SM s/d 278 SM) merupakan seorang Sarjana Patriotik dan bekerja di dalam istana kekaisaran sebagai menteri di bidang yang bersangkutan di ‘Negara Chu’. Qu Yuan disenangi oleh warga Chu karena beliau sangat pandai melakukan kerjasama secara diplomatik dengan kerajaan – kerajaan lain guna melawan agresi dari ‘Negara Qin’. Hingga pada suatu hari, ia difitnah dan dibuang ke sebuah daerah pengasingan setelah terjadi peristiwa korupsi besar – besaran di dalam lingkungan para menteri (dikutip dari berbagai sumber berita), dimana pendukung Qu Yan berusaha meyakinkan Sang Kaisar agar percaya bahwa tuduhan yang diberikan kepadanya adalah salah.  

Pada tahun 278 SM, Qu Yuan mendapat kabar berita bahwa pasukan Qin menyerbu Ying (ibukota Chu), karena ia sedang dalam masa tahanan di daerah pengasingan, maka beliau tidak bisa memberikan bantuan dan hanya melukiskan kekecewaan dan kesedihan hati melalui sebuah puisi ‘ratapan’ untuk Kota Ying lalu menenggelamkan diri di Sungai Miluo. Menurut cerita legenda dari penduduk di Desa Miluo, warga desa yang menjadi pengikut setia Qu Yuan berusaha mencari tubuhnya di dasar sungai dengan memakai beberapa perahu kayu. Mereka mendayung sekuat tenaga sambil memukul drum guna mengusir dan menakut – nakuti ikan buas dan roh – roh jahat yang suka bersarang di dasar sungai agar tidak mengganggu tubuh Qu Yuan yang mungkin saat itu sudah tidak bisa tertolong lagi. Mereka melempar beberapa bungkus beras ketan ke tengah sungai agar ikan – ikan tersebut tertarik lalu memakan beras ketan tersebut sehingga mayat Qu Yuan tetap dalam kondisi utuh, tidak menjadi mangsa ikan sungai. Pelemparan beberapa bungkus beras juga dimaksudkan sebagai persembahan ditujukan untuk roh Qu Yuan yang dipercaya masih berstana di dasar sungai.  

Hinggai saat ini tindakan tragis yang dilakukan oleh Qu Yuan menjadi sebuah ritual bunuh diri yang dilakukan oleh beberapa warga Chu untuk memprotes terjadinya korupsi yang menyebabkan Negara Chu pada zaman dahulu jatuh ! Namun beberapa warga lainnya justru mengenang jasa – jasa Qu Yuan dengan cara unik tetapi sederhana yaitu makan Kue Bacang yang terbuat dari beras ketan bersama – sama dengan keluarga usai melakukan kebiasaan tradisional balap perahun Naga sambil melempar beberapa biji Kue Bacang ke tengah sungai untuk peringatan kematian Qu Yuan yang muncul setiap hari kelima bulan kelima dalam penanggalan Kalendar Lunar Cina.  

Kenapa Ada Tradisi Makan Bakcang ? 

Seperti dijelaskan di atas, guna mengenang jasa – jasa Qu Yuan maka warga Cina di dunia melakukan tradisi makan Kue Bakcang bersama dengan anggota keluarga yang sudah dijalankan sejak zaman Qun Chiu (722 SM s/d 481 SM). Kue Bakcang dibungkus dengan rapi menggunakan daun bambu dengan bentuk dibuat menyerupai tanduk sapi. Ada juga yang menggunakan tabung dari bambu diisi dengan beras ketan beserta bahan – bahan yang lainnya sebagai pelengkap dan pelezat lalu ditutup rapat dan dipanggang hingga matang. Kue Bakcang memiliki sudut berjumlah empat yang dipercaya mengandung arti mengharapkan sesuatu yang baik akan terjadi. Sudut satu diperuntukkan untuk pasangan suami – istri yang baru menempuh hidup baru agar terhindar dari bertengkar dan tetap saling mencintai seperti ketika menjadi pasangan kekasih, sudut dua berarti doa – doa dilakukan agar keluarga dalam keadaan damai dan sejahtera serta sehat, sudut tiga berarti agar rejeki dan berkah selalu datang berlimpah, dan sudut empat mengandung harapan agar usaha yang sedang dijalankan sukses dengan karir meningkat. 

Isi Kue Bakcang beragam jenis, ada dari daging atau campuran daging dengan sayuran. Ukuran yang dibuat juga bervariasi yaitu ukuran kecil tanpa isi yang dimakan dengan menggunakan gula. Bakcang jenis ini disebut dengan nama ‘Kwecang’. Di Taiwan, pada akhir zaman Dinasti Ming, bentuk Bakcang mendapat pengaruh besar dari Suku Fujian yaitu didominasi bentuk bulat gepeng. Isi Bakcang juga bermacam-macam, bukan hanya daging, melainkan juga sayuran.  

Tradisi Lain Yang Biasa Dilakukan Ketika Tiba Hari Bakcang  

1/Lomba Perahu Naga 

Suku Bangsa Yue kuno adalah yang pertama kali menciptakan tradisi lomba perahu naga. Sebelum melakukan pertarungan, semua peserta lomba akan menato gambar naga di sekujur tubuh mereka lalu memangkas rambut mereka menjadi gundul. Ini bertujuan agar mereka aman melakukan perlombaan di tengah laut dan mendapatkan perlindungan dari Dewa Laut / Naga setiap hari kelima bulan kelima dalam ‘Kalender Lunar Cina’. Perahu yang dipakai untuk berlomba adalah model perahu berukuran panjang, sempit dan digerakkan dengan memakai tenaga manusia saja. Bagian depan perahu diberi hiasan berupa kepala Naga sedangkan bagian ekor diberi hiasan berupa ekor Naga yang terlihat eksotik. Peserta terdepan dilengkapi dengan sebuah genderang besar yang dibunyikan untuk memberi semangat kepada para anggota lomba di dalam satu perahu.  

2/Menggantungkan Rumput ‘Ai’ dan ‘Changpu’  

Hari ‘Peh Cun’ jatuh setiap musim panas yang secara umum dianggap sebagai bulan dimana banyak penyakit bermunculan. Maka dari itu para warga diwajibkan melakukan pembersihan dengan menggantungkan sejenis rumput Ai / Changpu di depan rumah (depan jendela ruang tamu) guna mengusir dan mencegah penyakit menyerang anggota keluarga.  

3/Mandi Tengah Hari  

Tradisi ini hanya berlaku di dalam lingkungan masyarakat yang berasal dari Suku Fujian (termasuk di dalamnya adalah Hokkian, Hokchiu, dan Hakka), Suku Guangdong (seperti Thiochiu, Hokchiu, dan Hakka) dan di Negara Taiwan. Mereka akan mengambil air di sumur rumah masing – masing lalu menyimpannya ketika Matahari tepat berada di atas kepala / tengah hari diberlakukannya Festival Peh Cun, karena dipercaya bahwa air yang disimpan tersebut bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit. Bisa dipakai untuk mandi atau diminum setelah dimasak / dipanaskan. Di Indonesia, tradisi ini digelar setiap tahun di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, dimana mereka akan mandi di sungai ketika hari beranjak siang karena dipercaya pada saat itu air sedang mendapatkan aura dan berkah dari Dewa Air / Naga.  

4/Mendirikan Telur  

Membuat telur – telur ayam berdiri di atas lantai merupakan sebuah pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan. Menurut pendapat orang tua pada zaman dahulu kala, hanya membutuhkan satu hari saja dalam setahun dimana telur – telur tersebut dapat didirikan yaitu pada Hari Bakcang tepatnya jam 12 siang ketika sinar Matahari sedang kuat – kuatnya memancarkan cahaya guna menerangi Bumi. Kenapa hal ini bisa terjadi, karena Gaya Gravitasi Bumi di hari yang bersangkutan melemah sehingga telur bisa dengan mudah berdiri. Syaratnya adalah telur tidak dicuci, jangan masukkan telur ke dalam kulkas, dan jangan direbus (dalam kondisi mentah).  

Nah yang terakhir adalah jangan lupa untuk makan Bakcang di Hari Bakcang dan ini berlaku juga buat warga Muslim dimana dengan mudah bisa menemukan Bakcang halal untuk acara berbuka puasa.  

Demikian kami membahas tentang asal mula tradisi Bakcang dikenal di dunia, semoga bermanfaat bagi para pembaca. 

 


Author
Nila

Suka menulis dan membaca

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar