Asal - Mula Tarian Jepang (‘Japan Dance’)

Asal - Mula Tarian Jepang (‘Japan Dance’)

Dikenal istilah ‘Nihon Buyo’ atau dalam Bahasa Inggris adalah ‘Japanese Dance’ merupakan tari – tarian tradisional dari Jepang yang pertama kali diperkenalkan ke mancanegara oleh dua ahli Budayawan : ‘Tsubouchi Shoyo’ dan ‘Fukuchi Genichiro’ dimana Nihon Buyo dalam hal ini mengacu kepada dua kelompok besar tari – tarian klasik khas Jepang yang disebut dengan nama ‘Mai’ dan ‘Odori’.  

Yang dimaksud dengan Mai adalah tari klasik dimana si penari dalam menarikan salah satu jenis tarian ini  diiringi dengan nyanyian atau musik – musik tradisional dengan seluruh bagian telapak kaki dalam kondisi diam / tidak boleh diangkat melainkan hanya diseret – seret / ‘suriashi’ saja meskipun pada beberapa jenis kadang – kadang boleh melakukan gerakan menghentakkan kaki. Gerakan tari lebih banyak terfokus kepada gerakan dengan berputar di dalam ruang gerak yang sempit atau sekitar panggung pementasan sebagai ruang gerak tarian. Kelompok tari yang termasuk ke dalam Mai adalah ‘Kagura’, ‘Bugaku’, ‘Shirabyoshi’, ‘Kusemai’, ‘Kowakamai’, ‘Noh’ / ‘Nogaku’ dan ‘Jiutamai’. Sedangkan yang dimaksud dengan Odori adalah menarikan sebuah tarian klasik dengan diiringi nyanyian atau musik tradisional dimana kedua kaki bisa digerakkan disertai hentakan kaki guna mengeluarkan suara yang dipermanis dengan gerakan – gerakan tangan disesuaikan dengan ritme musik. Contohnya adalah ‘Nenbutsu Odori’ dan ‘Bon Odori’.  

Tari Tradisional Awa Odori 

Yang dimaksud dengan ‘Tari Awa’ / ‘Awa Odori’ adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Awa / Prefektur Tokushima, Jepang, dimana tarian ini dapat dilakukan secara beramai – ramai diberbagai kota dan desa dalam Prefektur Tokushima guna menyambut ‘Perayaan Obon’. Setiap tahun pada tanggal 12 s/d 15 Agustus, Tari Awa digelar sebagai pengisi acara pesta rakyat Jepang di Kota Tokushima.  

Para Penari Awa terbagi ke dalam beberapa kelompok yang disebut dengan istilah ‘ren’ dimana sebelumnya mereka akan berpawai terlebih dahulu di jalan – jalan raya utama. Satu kelompok penari dapat terdiri dari lusinan penari dimana penari wanita akan menari dengan gemulai memposisikan tubuh tegak dengan tangan digerak – gerakkan dengan lemah lembut di atas kepala. Sedangkan para pria menari dengan pinggul direndahkan disertai gerakan tangan dan sepasang kaki yang dinamis.  

Musik pengiring mengaplikasikan alat musik yang terdiri dari alat – alat bernama ‘shamisen’, ‘perkusi’ (‘taiko’ dan ‘tsuzumi’), ‘genta’ / ‘kane’ dan ‘flute’ / ‘yokobue’. Lagu – lagu yang dimainkan adalah lagu – lagu yang sedang hit dan populer terutama lagu – lagu lawas dirilis ulang seperti dari ‘Zaman Edo’ salah satunya berjudul ‘Yoshikono’, liriknya berupa ajakan kepada penonton untuk turut serta menyanyi sambil menari. Lagu Yoshikono hanya dimanfaatkan untuk mengiringi kelompok Tari Awa saja sedangkan tari tradisional lainnya dapat diiringi dengan nyanyian berjudul ‘ Yatto Sa Yatto Saa.’ Kelompok penari Tarian Awa asal Tokushima kerap melakukan perjalanan tur keliling ke kota – kota besar di Jepang khususnya di dalam wilayah Kanto, distrik Suginami – ku, Tokyo, juga digelar pada kuil – kuil Koenji berdekatan dengan pusat – pusat perbelanjaan di sekitarnya.  

Asal Mula Tari Tradisional Awa  

Dalam Festival Tari Awa yang telah diselenggarakan sejak 400 tahun yang lalu, Tari Awa merupakan salah satu dari 3 ‘matsuri’ terbesar di Shikoku. Tari Awa berasal dari gerakan – gerakan tari tradisional yang dilakukan disertai dengan pengucapan doa – doa dalam Agama Buddha. Penjelasan lainnya menyatakan bahwa penguasa Istana Tokushima yang bernama ‘Hachisuka Iemasa’ memberikan perintah kepada Tokushima agar membawakan tarian khas Jepang secara beramai – ramai setelah usai membangun sebuah istana besar. Menurut cerita lainnya yang beredar dalam warga Jepang versi legenda / mitos, Tari Awal mulai ditarikan oleh warga Jepang sejak Tokushima menjadi salah satu wilayah administrasi / ‘han’ tersendiri. 

Kelompok Tari - Tarian Tradisional Awa Khas Jepang  

Dalam Prefektur Tokushima dijumpai sekitar 1.000 kelompok Tari Awa / ren dan sekitar 350 kelompok diantaranya adalah dimiliki oleh perusahaan atau pengusaha dimana kelompok tari yang sudah mampu berkembang sendiri atau mapan biasanya menjadi anggota ‘Asosiasi Promosi Tari Awa’ atau ‘Awa Odori Shinko Kyokai’ atau Asosiasi Tari Awa Prefektur Tokushima / ‘Tokushima – ken Awa Odori Kyokai.  

Di samping itu, di Tokushima mudah dijumpai kelompok – kelompok kecil yang beranggotakan orang yang memang profesional dan berminat menari tarian tradisional daerah masing – masing, bisa dipelajari melalui klub – klub ‘ekstrakurikuler’ mahasiswa / wi atau grup tari yang disponsori oleh perusahaan atau pusat – pusat perbelanjaan. Sekitar tahun 2.006 yang lalu, Festival Tari Awa di Kota Tokushima diramaikan oleh sekitar 960 kelompok tari ditambah dengan para penonton yang turut serta menari sambil bernyanyi di sepanjang jalan – jalan raya utama di Kota Tokushima yang diduga berjumlah di atas 100 ribu orang.  

Melihat Kostum Tarian  

Masing – masing kostum tarian terdiri dari dua bagian yaitu kostum untuk penari wanita dan kostum untuk penari pria. 

Kostum Penari Wanita  

Para penari wanita biasanya mengenakan ‘yukata’ dan topi anyaman / ‘amigasa’ yang menutupi hampir sebagian wajah bagian atas si penari. Para penari mengenakan alas kaki berupa sandal dari kayu yang disebut dengan istilah ‘geta’. Gerakan – gerakan tari untuk wanita terfokus pada kaki dan tangan yang dilakukan dengan lemah – gemulai dan anggun. Yukata juga bisa dikenakan sehari – hari dimana para Penari Awa akan mengenakan yukata berikut pakaian dalam / ‘juban’, rok dalam / ‘susoyoke’ dan penutup lengan yang disebut ‘tekko’.  

Kostum Penari Pria         

Tari tradisional yang dibawakan oleh penari pria pada umumnya mengenakan setelan ‘happi’ / ‘hanten’ dengan celana pendek yang disebut ‘hanten odori’ atau ‘Tari Hanten’. Pria dapat mengenakan yukata dengan dilengkapi kain yukata pada bagian kaki yang diangkat ke bagian pinggang sehingga celana pendek yang dikenakan akan terlihat. Apabila sudah mengenakan yukata maka tarian yang dimaksud disebut dengan istilah ‘yukata odori’ atau Tari Yukata.  

Anak – anak perempuan suka mengenakan kostum penari laki – laki dan membawakan gerakan Tari Awa untuk pria. Sebaliknya pria tidak dibolehkan menarikan gerakan – gerakan Tari Awa untuk wanita. Gerakan – gerakan tarian untuk pria, adalah tangan dan kaki bebas bergerak secara dinamis dimana penari pria akan mengenakan ‘uchiwa’ / kipas bundar dilengkapi ‘tenugui’ / saputangan sebagai perlengkapan menari. 

Yang Kedua Adalah Tarian ‘Jongmyo Jerye’ Atau Tarian Baris  

Tari tradisional ini dipentaskan khusus dalam ‘Upacara Agung Jongmyo’ diberi nama populer yaitu Tari Baris. Tarian ini digerakkan dengan membentuk barisan oleh kelompok penari berjumlah sekitar 64 orang dengan diiringi oleh musik ketika puncak acara yang digelar di dalam kuil. Pada Zaman Dinasti Goryeo, mengadopsi tari ini dari dataran China yang memiliki formasi terdiri dari 64 orang penari dimana masing – masing penari membentuk 8 baris, sehingga disebut dengan nama ‘Palilmu’ / Tari Delapan Baris. Ketika masa pemerintahan Raja Sejong, Tarian Baris dibawakan dalam perayaan – perayaan upacara adat di dalam istana dimana tari ini mulai dipentaskan untuk fungsi sebagai ritual “Upacara Jongmyo’.  

Konsep tarian tersebut di atas dikemas yang merupakan gabungan antara dua buah energi yaitu ‘yin’ dan ‘yang’ melambangkan 2 buah kelompok penari dimana di dalamnya terdapat istilah ‘munmu’ dan ‘mumu’ atau disatukan menjadi ‘munmu botaepyeong – ji – mu ‘ berarti tarian tradisional yang merepresentasikan pencapaian dan prestasi raja – raja yang sukses mensejahterakan rakyatnya, sementara ‘mumu jeongdae – eop – ji – mu’ merupakan tarian tradisional yang melambangkan kecakapan armada militer raja yang agung. 

Yang Ketiga Adalah Tentang Kyogen 

Yang dimaksud dengan ‘Kyogen’ adalah sebuah pertunjukan dari teater humor tradisional khas Jepang yang merupakan perkembangan dari unsur – unsur humor terhadap ‘Pertunjukan Sarugaku’. Kyogen atau dikenal dengan istilah populer adalah ‘Noh’ merupakan seni tradisional khas Jepang yang berakar dari Pertunjukan Sarugaku. Sejak Zaman Meiji, istilah Nogaku atau Nohgaku kerap diaplikasikan untuk menjelaskan tentang Kyogen atau Noh.  

Kyogen adalah cenderung mengarah kepada pertunjukan tentang teater musikal dengan mengaplikasikan beragam topeng yang dikenal dengan istilah ‘Omote - Noh’ yang merupakan salah satu jenis pertunjukan kesenian yang disebut dengan istilah ‘Kabuki – Kyogen’ atau cukup disebut dengan Kyogen saja. Kyogen atau Noh merupakan teater musikal yang menggunakan topeng / Omote – Noh yang bersifat abstraksi dan simbolisme melalui pengekspresian secara kuat dengan dilengkapi unsur gerak tari, dimana sebagian besar cerita yang dipertunjukkan bertemakan tragedi. Kyogen khusus mengembangkan lebih lanjut tentang unsur – unsur komedi dan seni meniru beberapa gerakan / ‘pantomin’ yang biasa digelar dalam pertunjukan Sarugaku, termasuk di dalamnya adalah naskah dialog dan penggambaran karakter yang bersifat realistik. Cerita – cerita yang dilakonkan adalah cerita satir, cerita humor tentang kegagalan, dan cerita – cerita humor.  

Asal Mula Kyogen  

Kyogen berasal dari suku kata ‘Kyogen – Kigo’ / ‘Kyogen – Kigyo’ merupakan salah satu istilah dalam ajaran Agama Buddha untuk kata – kata yang mengandung makna berbunga – bunga atau cerita yang kurang masuk akal. Istilah ini kerap digunakan oleh kritikus sastra guna mengkritik cerita – cerita roman dan puisi dimana istilah ini selanjutnya digunakan sebagai salah satu unsur terpenting terselip dalam Pertunjukan Sarugaku yaitu berupa pertunjukan yang bersifat ‘monomane’ / seni meniru gerak – gerik dan bagaimana cara berbicara secara humor. Sejalan dengan perkembangan Pertunjukan Sarugaku semakin banyak memiliki penggemar, istilah Kyogen selanjutnya digunakan untuk menyebut ragam pertunjukan untuk teater humor pada pementasan jenis Noh. Dalam hubungannya dengan kegiatan sehari – hari, Kyogen dalam Bahasa Jepang bisa berarti sebuah tindakan guna menipu orang lain / orang yang berpura – pura sedang dirampok dikenal dengan istilah ‘Kyogen – Goto’, berbohong atau bercanda berlebihan atau tari – tarian yang tujuannya untuk memancing tawa.  

Kyogen lebih mengenal beberapa sebutan untuk menonjolkan karakter – karakter tertentu yang akan tampil di dalam sebuah cerita misalnya saja : ‘Shu’ atau ‘Teishu’ yang artinya majikan, ‘Tarokaja’ berarti pesuruh laki – laki, atau ‘Suppa’ yang artinya peran – peran penjahat.  

Jenis – Jenis Kyogen Di Jepang 

Secara garis besar, Kyogen dapat dikelompokkan ke dalam 3 jenis kelompok besar antara lain sebagai berikut : ‘Betsu’ – Kyogen / Kyogen Spesial yang memiliki penampilan para aktor khusus memainkan karakter ‘Sanbaso’ dalam pementasan cerita – cerita Noh yang berjudul ‘Okina’. Yang kedua adalah ‘Hon – Kyogen’ / Kyogen Tunggal dimana pementasannya dilakukan secara tunggal dan bukan merupakan salah satu bagian pertunjukan penting dari Noh, biasanya mengacu hanya kepada kondisi ‘Hon – Kyogen’ saja. Yang terakhir adalah ‘Ai – Kyogen’ atau ‘Kyogen Selingan’ dimana dipentaskan sebagai salah satu bagian pertunjukan Noh. 

Hon – Kyogen dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis yang dapat menunjukkan tentang hal – hal berbeda – beda menurut zaman dan aliran masing – masing. Pada tahun 1.792, Okura Torahirobon mengelompokkan Hon – Kyogen menjadi sebagai berikut :  

1/Kelompok ‘Waki – Kyogen’ dimana cerita yang dipentaskan bertemakan kebahagiaan dan keberuntungan.  

2/Kelompok ‘Daimyo – Kyogen’ adalah cerita bertemakan tentang tuan dan majikan, dimana ‘Daimyo’ adalah menjadi peran utama dalam cerita yang bersangkutan.  

3/Kelompok ‘Shomyo – Kyogen’ / Kyogen Pesuruh adalah cerita yang bertemakan antara tuan dan majikan dimana pesuruh laki – laki di dalamnya disebut dengan istilah ‘Tarokaja’ yang menjadi tokoh utama. 

4/Kelompok ‘Mukojo – Kyogen’ / Kyogen Wanita & Menantu Pria merupakan cerita – cerita tentang menantu pria sebagai peran utama yang masih menumpang di dalam rumah mertua atau tentang cerita – cerita humor dalam kehidupan sehari – hari seperti istri yang kadang – kadang suka mengakali suami atau suami dalam kondisi tidak dapat diandalkan.  

Kelompok yang lainnya adalah kelompok ‘Oniyamabushi – Kyogen’ atau Kyogen Jin dan Pertapa, kelompok ‘Shukkezato – Kyogen’, kelompok ‘Atsume – Kyogen’,  

dan kelompok ‘Atsume – Kyogen’ atau Kyogen – Serbaneka.  

Aliran – Aliran Dalam Kyogen Berhubungan Dengan Tarian Jepang  

Berhubungan dengan tradisi kuno di Jepang yaitu ‘Iemoto’, Kyogen sejak ‘Zaman Edo’ terbagi ke dalam 3 aliran utama sebagai berikut : ‘Aliran Okura’, ‘Aliran Izumi’, dan ‘Aliran Sagi’.  

Saat ini hanya tinggal 2 aliran saja yaitu aliran Kyogen yang tersisa antara lain  ‘Aliran Okura’ dan ‘Aliran Izumi’.  

‘Aliran Okura’ merupakan salah satu aliran dari penerus tradisi Pertunjukan Sarugaku Yamato dimana aliran ini erat hubungannya dengan tokoh – tokoh pemain di dalamnya yang rata – rata berasal dari ‘Keluarga Okura Yaemon Tora Akira’ yang sering melakukan pentas secara turun – temurun di dalam Gedung Teater Komparu – za sebagai pendiri aliran ini pada ‘Zaman Muromachi’. Saat ini Aliran Okura juga dimainkan oleh ‘Keluarga Yamamoto Tojiro’ berpusat di Tokyo, ‘Keluarga Okura Yataro’, dari garis keturunan utama, ‘Keluarga Shigeyama Sengoro’ yang berpusat di Kyoto, dan ‘Keluarga Shigeyama Chuzaburo’ berpusat di Kyoto, ‘Kelompok Zenchiku Chuzaburo’ berpusat di Kyoto, ‘Kelompok Zenchiku Chuichiro’ terpusat di Osaka dan Kobe serta ‘Kelompok Zenchiku Juro’ yang berpusat di Tokyo.  

‘Aliran Izumi’ pertama kali didirikan oleh Yamawaki Izumo no Kami Motonori yang berasal dari Kyoto pada awal Zaman Edo. Saat ini aliran ini memiliki 3 percabangan keluarga yaitu : ‘Keluarga Nomura Matasaburo’ yang berpusat di Nagoya, ‘Keluarga Nomora Manzo’ yang berpusat di Kota Tokyo, dan ‘Kyogenkyodosha’ yang berpusat di Nagoya. 

Saat ini dikenal ada sekitar 200 aliran tari tradisional dan klasik khas Jepang dengan 5 aliran utama yang menonjol antara lain sebagai berikut : ‘aliran Hanayagi – ryu’ didirikan sekitar tahun 1.849 oleh Hanayagi Jusuke, ‘aliran Fujima – ryu’ didirikan sekitar tahun 1.704 s/d 1.710 oleh Fujima Kanbe, ‘aliran Nishikawa – ryu’ dimulai sejak Zaman Genroku oleh Nishikawa Senzo II, ‘aliran Bando – ryu’ didirikan oleh Bando Mitsugoro III, ‘aliran Onikenbai’ dan ‘aliran Arauma’ merupakan dua aliran berusia tertua yang pernah berkembang di Jepang. 

Demikian kami mengulas tentang asal mula tarian Jepang / ‘Japan Dance’, semoga bermanfaat bagi para pembaca. 


Author
Nila

Suka menulis dan membaca

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar