Asal - Mula Sangjit Pada Pernikahan Orang Tionghoa

Asal - Mula Sangjit Pada Pernikahan Orang Tionghoa

Asal - mula acara seserahan ini dilakukan oleh pihak calon pengantin pria / CPP ditujukan kepada pihak calon pengantin wanita / CPW dimana idealnya istilah ‘sangjit’ dilakukan sekitar 2 minggu sebelum menggelar resepsi pernikahan. Apa saja yang dilakukan selama sangjit ? Untuk memperoleh informasi lengkap tentang kegiatan sangjit maka di bawah ini kami jabarkan satu per satu berdasarkan beragam sumber berita yang sudah kami kumpulkan. 

1/Pihak keluarga CPW akan mendapatkan / menerima seserahan dari pihak CPP di depan rumahnya. Mekanismenya adalah semua anggota keluarga CPP harus berbaris dengan rapi di depan rumah untuk dapat masuk satu per satu sambil menyerahkan baki seserahan kepada pihak keluarga CPW. Calon CPW tidak wajib turut serta menerima seserahan, disarankan untuk tetap tinggal di kamar hingga barang – barang seserahan semua diserahkan.  

2/Dilanjutkan dengan acara memperkenalkan masing – masing anggota kedua calon mempelai yang dipimpin oleh Papa dari masing – masing calon mempelai.  

3/Seluruh anggota keluarga diwajibkan masuk ke dalam ruangan sangjit yang sebelumnya sudah dihias serba merah nan cantik dan manis seperti lambang ‘double happiness’ ditempel dengan rapi dan seni di pusat ruangan. Sesi selanjutnya adalah menjadi rangkaian acara pemotretan pun dimulai.  

4/Benda – benda seserahan dibawa masuk ke kamar yang sudah disediakan sebelumnya oleh pihak keluarga CPW untuk diambil sebagian isinya dan sisanya akan dikembalikan kepada keluarga CPP termasuk di dalamnya adalah uang pesta. Mengapa harus dibagi dua ? Konon jika semua uang pesta diberikan kepada pihak keluarga CPW maka pihak keluarga inilah yang bertanggung jawab membayar semua biaya pernikahan. Atau jika semua uang pesta diserahkan kepada pihak keluarga CPP maka ini berarti bahwa si gadis diserahkan sepenuhnya kepada pihak laki – laki pilihan hatinya. Jika hanya diambil sebagian maka tandanya mereka masih diperbolehkan turut serta dalam keluarga kedua calon pengantin.  

5/Selesai sudah rangkaian acara di rumah CPW, maka dilanjutkan dengan makan siang bersama. Pada zaman dahulu, biasanya pihak keluarga CPW akan menyediakan ragam masakan untuk acara santap siang bersama di rumahnya. 

Sangjit disusun berdasarkan atas permintaan CPW kepada CPP dimana ini merupakan kesempatan baik untuk minta dibelanjakan benda – benda kesukaan ke calon suami. Namun karena pasangan kekasih sekarang ini rata – rata sudah dapat mandiri / berdiri sendiri maka akhirnya acara belanja dilakukan sendiri – sendiri untuk keperluan sangjit. Isi dari seserahan dibuat standar (yang penting dapat dipakai dan bermanfaat).  

‘The Wedding Day’  

1/Melakukan Prosesi Persiapan Kedua Mempelai  

Zaman sudah semakin modern maka prosesi ini tidak lagi wajib dilakukan di rumah masing – masing mempelai, bisa dilakukan di hotel, restoran, atau tempat – tempat asri lainnya yang memudahkan melakukan sesi pemberkatan untuk dilakukan. Setelah selesai acara ‘make – up’ dan mengenakan baju pengantin yang anggun dan cantik, maka kedua orangtua akan memberikan ‘boutonnerie’ milik CPP lalu menutup dengan ‘veil’. Veil yang dikenakan oleh CPW hanya akan dibuka sekali saja ketika pendeta mengumumkan, ‘you may kiss the bride’ karena ada tradisi lain yang wajib dilakukan oleh pasangan calon pengantin lainnya seperti acara makan kue onde – onde setelah CPW dijemput oleh CPP. Agar lebih mudah melakukan sesi ini maka veil CPW akan dibuka untuk sementara waktu lalu ditutup kembali. Karena menyangkut beberapa alasan maka tradisi makan kue onde – onde boleh ditiadakan dan bisa langsung ke sesi membuka veil hanya sekali. CPP mengenakan jas dibantu oleh orangtua mertua, tak lupa untuk membawa ‘hand bouquet’ untuk kedua calon pengantin. 

2/Melakukan Prosesi Jemput – Jemputan Dan Pertemuan Dengan Masing – Masing Mempelai  

Pada intinya, keluarga dan orangtua CPP akan menjemput CPW ke rumahnya. Dalam sesi ini, begitu CPP tiba di tempat maka mereka akan disambut oleh keluarga dan orangtua CPW. CPP wajib memberikan salam hormat dengan cara membungkuk sebanyak 3 kali, selanjutnya dia akan diantar oleh orangtua CPW untuk bertemu dengan pengantin pujaan hati di dalam ruang tersendiri. Setelah kedua calon mempelai bertemu dan saling bertatap muka maka selanjutnya mereka akan saling menukar hand bouquet dan boutonnerie. Usai prosesi ini dilakukan maka dilanjutkan dengan makan kue onde dan terakhir adalah acara tea pai.  

3/Acara ‘Tea Pai’  

Acara ini bisa dilalui dengan kegiatan foto – foto. Kedua calon mempelai akan menyuguhkan teh kepada keluarga yang lebih tua sebagai tanda hormat. Acara dimulai dari pihak keluarga CPP yaitu diawali dengan orangtua, disusul oleh saudara kandung yang sudah menikah dan kerabat / handai taulan lainnya. Saat melayani keluarga CPP, harus CPW yang menyuguhkan teh begitu juga sebaliknya. Hal lain yang wajib dilakukan oleh orangtua masing – masing mempelai akan memasukkan dan menepuk – nepuk ‘angpao’ dalam jas CPP. Tujuannya adalah mendoakan kemakmuran dalam hal keuangan keluarga semoga dapat lancar dan baik.  

4/Mengenakan Gaun Serba Merah Pada Malam Resepsi Pernikahan  

Kenapa ada CPW yang tidak mengenakan gaun pengantin serba putih pada waktu malam resepsi pernikahan ? Jawabannya adalah menurut orangtua zaman dahulu menjelaskan bahwa jika pesta resepsi diselenggarakan pada hari yang berbeda (tidak pada hari yang sama dengan ‘holy matrimony’) maka dilarang mengenakan gaun serba putih kembali. Alasannya adalah gaun putih hanya boleh dipakai seumur sekali saja. Biasanya orangtua kedua calon pengantin yang memberi ide pertama kali dan untuk menghormati mereka maka CPW memakai ‘cheongsam’ merah pada malam resepsi mereka.  

5/’Hui Niang Jia’  

Hui Niang Jia mengandung makna pulang ke rumah orangtua pihak perempuan. Prosesi ini wajib dilakukan beberapa hari atau seminggu usai diselenggarakannya upacara pemberkatan nikah. Ketika kembali ke rumah keluarga CPW, tidak boleh dengan tangan kosong melainkan harus membawa sesuatu. Yang sering diwajibkan membawa adalah seekor babi panggang atau sekeranjang buah – buahan segar untuk nantinya dimakan bersama – sama dalam acara makan malam bersama. Akan ada sesi istirahat sejenak sambil menyantap kelezatan kue onde – onde, dimana makna yang terselip di dalam acara nyemil sederhana ini adalah onde – onde merupakan simbol pernikahan agar tetap lengket hingga tua, sedangkan kuah onde – onde yang segar melambangkan sebuah pernikahan yang manis.  

Seperti dijelaskan tersebut di atas bahwa pernikahan ala warga Tionghoa di Indonesia haruslah mengikuti tradisi bernama Sangjit. Sangjit merupakan sebuah proses kelanjutan lamaran dari pihak calon mempelai pria dengan membawa seperangkap seserahan kepada pihak calon mempelai wanita. Pada umumnya sangjit dilakukan setiap dua minggu sebelum menggelar resepsi pernikahan dan akan berlangsung antara pukul 09.00 s/d 13.00 WIB.  

Serba – Serbi Merah Saat Melakukan Sangsit  

Acara sangjit dilakukan di rumah orangtua CPW dimana sebelumnya keluarga dan sanak – saudara CPW (calon pengantin wanita) sudah sibuk beberes rumah, memasak, menyiapkan makanan / minuman untuk pesta, dan mendekor rumah menjadi serba merah lalu tinggal menunggu kedatangan CPP (calon pengantin pria) bersama dengan keluarga intinya. Agar semakin meriah, orang – orang yang berkunjung ke acara sangjit diwajibkan mengenakan baju berwarna merah (khususnya terhadap CPP dan CPW disarankan memakai cheongsam merah). Juga berlaku terhadap nampan – nampan untuk menata seserahan dikemas dengan gaya ‘packaging’ didominasi warna merah. 

Tata Cara Sangjit  

Seperti dijelaskan di atas, wakil keluarga CPW beserta dengan para penerima seserahan (dari anggota keluarga yang telah menikah) akan menunggu kedatangan mereka di depan pintu rumah CPW. Dipimpin oleh seorang anggota keluarga tertua, rombongan CPP tiba dengan membawa seserahan ke rumah CPW. Rombongan ini terdiri dari orang – orang yang masih lajang / belum menikah dimana nantinya mereka akan menyerahkan satu per satu nampan seserahan secara berurutan untuk kedua orangtua CPW, dilanjutkan ke CPW, dan keluarga besar mereka. Seserahan yang telah diterima selanjutnya dibawa ke dalam sebuah kamar khusus untuk nantinya akan dibagi dua, setengahnya akan dikembalikan ke keluarga CPP. Barulah dilanjutkan dengan acara ramah – tamah dan makan siang. Pada akhir acara, keluarga CPW akan menyerahkan setengah dari benda – benda seserahan yang tadi dibawa ke rumah keluarga CPW. Karena, apabila semua benda – benda seserahan diambil oleh keluarga CPW maka ini berarti bahwa keluarga CPW sudah rela menyerahkan anak gadisnya kepada keluarga laki – laki pilihan hatinya. Maka si gadis sejak saat itu sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan keluarganya. Nah, agar hubungan kekeluargaan tetap terjalin dengan baik maka bisa dilambangkan dengan menyerahkan benda – benda seserahan yang dibagi dua oleh keluarga CPP dengan keluarga CPW. Sebelum rombongan keluarga CPP kembali ke rumah masing – masing maka para pembawa nampan dari keluarga CPP akan diberikan angpao dengan tujuan agar mereka mudah menemukan jodoh yang baik. 

Seserahan Dengan Nampan Berjumlah Genap  

Sebelum memulai acara, biasanya akan ada pertemuan antara keluarga mempelai pria dengan keluarga mempelai wanita yang membicarakan tentang masalah benda – benda apa saja yang akan dijadikan sebagai seserahan sangjit. Ini akan disesuaikan dengan kemampuan dari keluarga mempelai pria. Jumlah nampan dibuat genap misalnya 6 / 12 nampan. Untuk memudahkan pengambilan dan pembagian isi nampan maka barang – barang yang menjadi pilihan seserahan dipilih dan dirangkai menjadi lebih sederhana. Barang – barang yang umum dijadikan sebagai isi nampan antara lain sebagai berikut :  

1/Busana (kain) untuk mempelai wanita yang bisa ditambahkan dengan sepasang sepatu, tas, dan parfum.   

2/Aneka perhiasan, uang susu, dan uang pesta. Yang dimaksud dengan uang susu adalah uang yang diberikan oleh kedua orangtua mempelai pria kepada kedua orangtua mempelai wanita sebagai ungkapan rasa terima kasih karena bersedia mengambil – alih tugas orangtua dalam mendidik / merawat si gadis sejak dalam kandungan hingga dewasa. Jumlah uang susu tergantung kerelaan hati. Sedangkan yang dimaksud dengan uang pesta adalah uang yang diberikan oleh orangtua mempelai laki – laki didasarkan atas usia dari mempelai wanita. Contoh apabila umur si mempelai wanita 28 tahun, maka uang pesta yang disumbangkan berkisar antara angka 28 misalnya Rp. 2.8 juta atau Rp. 280 ribu. Nah khusus untuk uang pesta, orangtua CPW hanya diperbolehkan mengambil uang pesta sesuai dengan angka buntutnya saja, misalkan uang pesta sebesar Rp. 280.000 maka yang diambil hanyalah Rp. 80 ribu saja.  

3/Nampan seserahan masing – masing berisikan 18 buah contohnya adalah buah apel, pisang, jeruk, naga, pir, anggur, stroberi, dan lain sebagainya. Ini melambangkan kedamaian, kesejahteraan, dan rezeki. Sebagian isinya akan dibagikan kepada keluarga mempelai pria.  

 5/Sepasang lilin merah (bermotif naga dan burung hong) yang diikat dengan memakai pita merah untuk menghalau pengaruh negatif. Satu pasang untuk pihak keluarga mempelai wanita dan sisanya untuk keluarga mempelai pria.  

6/Sepasang kaki babi atau dapat digantikan dengan makanan kaleng berjumlah 8 s/d 12 kaleng ditambah 6 s/d 12 kaleng kacang polong. Ini juga akan dibagi rata dengan keluarga mempelai pria.  

7/Satu nampan berisikan kue mangkok berwarna merah sebanyak 18 potong yang melambangkan kelimpahan rejeki dan keberuntungan. Sama seperti di atas, akan dibagi rata dengan keluarga CPP.  

8/Satu nampan berisi dua botol arak / ‘champagne’, dimana keluarga mempelai wanita akan mengambil semua seserahan ini untuk ditukar dengan dua botol sirup merah dari sari buah untuk keluarga mempelai pria. 

Nah setelah membaca ulasan dari kami tersebut di atas, pada intinya tradisi sangjit dilakukan sebagai salah satu lambang yaitu penyerahan anak perempuan kepada keluarga laki – laki pilihan hati yang akan menikahinya namun si gadis tetap menjalin hubungan dengan keluarganya di rumah. Acara sangjit bisa dipersiapkan sesuai dengan kemampuan kedua keluarga mempelai pria dan wanita.  

Demikian kami menjelaskan tentang asal – mula sangjit pada pernikahan orang Tionghoa, semoga bermanfaat bagi para pembaca ! 

 

 

 

 

 

 


Author
Nila

Suka menulis dan membaca

Komentari
  • 0 komentar
Silahkan login untuk berkomentar

Belum ada komentar